Sebenarnya kepalaku masih pusing, jangankan untuk bangun, membuka kedua mataku saja membutuhkan usaha keras. Eh tapi sebentar, aku ingat aku bahkan tidak punya kepala, apalagi mata! Pikiranku sudah mulai kacau sepertinya. Bahkan saat ini aku tidak tahu aku berada dimana. Baiklah, coba aku ingat - ingat kembali. Ah, bagaimana bisa aku mengingat dan berpikir jernih kalau tempatku berada sekarang sungguh tidak nyaman. Tiap detik bergetar, lebih tepatnya seperti gempa yang tidak berujung, seperti di dalam fluida. Tak imbang dan tak beraturan, meliuk - liuk membuatku merasa hampir jatuh, tetapi tak membiarkan aku jatuh. Untunglah aku tak memiliki kelenjar keringat, jadi aku tidak merasa gerah meskipun di sini sangat minim udara dan sesak. Tapi sedikit demi sedikit dapat kurasakan kandungan air dalam tubuhku ini menguap, bisa dehidrasi kalau terus seperti ini. Di tempat sebelumnya, tubuhku menggigil bahkan hampir mati rasa karena dingin luar biasa. Entah apa maksudnya aku dimasukan ke dalam tempat sedingin itu. Padahal di tempatku berasal, panas kering luar biasa pun aku tak masalah, aku bisa bertahan bahkan bisa menyimpan cadangan air. Kini setelah berada di sini, di tempat gelap dan pengap ini, aku merasa ruangan minus sembilan derajad celcius itu jauh lebih baik. Meskipun hampir mati rasa, setidaknya aku tidak sendirian. Sumpah aku takut. Tak ku sangka teman - temanku di satu pohon tega membohongiku. Ah, atau mungkin mereka cuman berusaha membuatku tidak khawatir (atau sekedar,..menghiburku?). Kata mereka, di kota aku akan lebih dihargai. Aku bisa menolong mahluk lain. Semacam mengemban tugas mulia dari Sang Pencipta kata mereka. Mereka juga bilang kalau aku terus - terusan di perkebunan tandus dan berpasir itu aku tidak akan menjadi apa - apa. Aku akan jadi lebih bahagia. Tapi kenyataan jauh dari apa yang kubayangkan. Aku berpindah dari (mereka menyebutnya "tangan") tangan satu ke tangan lainnya. Aku digenggam, dipegang, dielus - elus, cuman sekedar memastikan apakah aku pantas mereka tukarkan dengan beberapa lembar kertas. Untuk kemudian dibawa entah kemana, seperti diriku saat ini yang tak tau ntah kemana dan berapa lama aku akan berada di sini.

Pikiranku sudah melayang kemana - mana, menyesali nasib sepertinya memang bukan ide yang baik. Lebih baik aku bersyukur setidaknya aku masih utuh dan masih bisa merasakan jiwaku bersatu dengan tubuhku. Beberapa teman seperjuanganku ada yang langsung mereka belah, dan di keruk semua isi tubuh dan dagingnya, kemudian langsung mereka masukan ke mulut mereka. Kejam! Bahkan mereka tidak menunjukan rasa bersalah sama sekali. Terlihat bahagia setelah mengunyah temanku tadi. Mahluk macam apa mereka? Setidaknya yang menukarku dengan lembaran kertas miliknya ini tidak memperlakukanku demikian. Meskipun tetap saja kalau dibiarkan pengap begini aku bisa menjamur kemudian membusuk perlahan - lahan. Ini lebih mengenaskan ketimbang mati mengering karena dijemur di bawah terik matahari seperti temanku lainnya di keranjang. Coba saja kami tidak dipisahkan dari induk kami. Kami tidak akan bisa mengering, menyusut, apalagi jamuran! Aduh amit - amit! Disaat seperti ini aku harus terus berpikir positif, tapi bagaimana bisa? Baru saja aku ingin menenangkan pikiran, tiba - tiba ada jari - jari tangan menggenggamku erat. Aduh,.. Tetap tenang, tenang,.. "Inhale,..exhale,.. " (iya, aku melihat mereka melakukan ini ketika sedang gugup dan stress). Ntah ini bisa mempengaruhi kadar kegugupan mereka apa tidak, tapi bagiku ini sama sekali tidak berefek, lah aku tidak mempunyai hidung. Tapi apalah daya diriku sudah berada di genggaman seseorang. Oh, aku bahkan tidak dapat membayangkan kalau ternyata hampir 45 menit aku berada di dalam kantong plastik hitam nan kusut itu. Dengan perlahan mahluk ini meletakan ku di atas meja putih, keadaan sekitar jauh lebih baik. Yah, meskipun aku tidak bisa bergerak kesana - kemari juga seperti mereka, tetapi di sini cukup terang, jauh dari kata gelap. Dengan kata lain, aku suka berada di sini.

Mahluk - mahluk ini ternyata sangat menyedihkan, mereka harus memasukan berbagai macam mahluk, atau bagian mahluk lain untuk hidup. Masih hebat kami mau dibandingkan bagaimanapun juga. Kami tidak tergantung mahluk hidup lain untuk hidup, tumbuh dan berkembang. Oh ya baiklah koreksi, untuk bagian berkembang kami masih membutuhkan bantuan lebah , kumbang, atau kupu - kupu. Tapi tetap kami lebih unggul, kami bisa membuat makanan kami sendiri, bahkan cadangan makanan kami. Hah, mereka sih tidak ada apa - apanya. Lagi - lagi tanpa merasa bersalah mereka memasukan segala macam ke dalam perut mereka. Meremukan segalanya dengan geraham mereka, ya Tuhan... tolong aku, jangan biarkan aku yang berikutnya berada di antara geraham - geraham itu. Apalagi tubuhku tidak lebih kuat dari sterofoam, penuh air lagi! Pasti tak butuh waktu lama aku akan berada dalam kubangan asam dan larut, hilang dari semesta. Tidak! Tolong jangan biarkan mereka melakukannya ya Tuhan.

Dan sepertinya benar, sepertinya Tuhan benar - benar menyayangiku kali ini. Mereka terlihat kekenyangan. Sudah seharusnya memang. Tidak ada yang mereka sisakan di meja kecuali garam halus, merica bubuk, dan beberapa cabe yang sudah remuk tak berbentuk. Aku bahkan tak tega melihat ke arah cabe - cabe yang sudah remuk luluh lantak itu. Di tengah kesibukanku dengan pikiranku sendiri aku tersadar kalau sepertinya mereka meninggalkanku di sini. Ntah Tuhan benar - benar sayang padaku atau memang aku yang paling beruntung. Dengan sigap mereka memasukan benda berbentuk persegi dan beradiasi elektromagnetik tinggi itu kembali ke dalam tas mereka. Tetapi tidak denganku, mereka bergegas begitu saja dan meninggalkanku di sini. Oh senangnya! Aku tidak perlu kembali lagi ke dalam kantong plastik hitam itu lagi tidak pengap lagi, tidak gelap lagi. Selamat datang cahaya nan terang benderang ini. Haduh, bahagia sekali rasanya. Tapi, apa aku akan selamanya di sini? Sendirian? Hanya ditemani bangkai cabe - cabe ini?

Ouch! Siapa lagi ini yang menggemgamku? Tidakkah ada baiknya kalian membiarkanku menikmati meja putih yang disirami cahaya terang ini? Jari - jari mahluk satu ini lebih besar dan kekar, bau bawang lagi, aku merasakan perih dan pedih disekujur tubuhku. Dan karena besarnya tangan mahluk ini menutupi semua bagian tubuhku sampe aku tak bisa bernafas. Dalam sekejab aku merasakan perubahan suhu yang sangat ekstrim. Benar - benar dingin menusuk setiap bagian dan lekuk tubuhku. Sepertinya aku sudah mengenal lingkungan yang seperti ini. Ah, mengapa harus di sini lagi? Mengapa aku harus berada di kotak bersuhu dingin ini. Terjebak di antara bau amis ikan, daging, dan parahnya ada daging giling di sini. Baiklah kembali di tempat ini, setidaknya aku tidak sendirian, dan teman - teman di sini lebih bervariasi. Ada telur ayam kampung, tomat, bawang bombay, dan yang paling penting, tidak ada kosmetik berhidroquinon!

"Hai, namaku Draco, kamu sudah berapa hari berada di dalam sini?"

"Oh? Aku Flo, baru kemarin, you know, i come from Florida, US!"

"Uhmm jadi kamu Jeruk dari Florida?"

"No no no, i'm florida orange!"

",....."


***

Eh, mom! Tadi aku dikasih mommy nya Reza buah naga, gede banget! Tapi di jok kok gak ada? Aku taruh mana yah tadi? Apa ketinggalan di resto Turki tadi yak? Duh, sayang banget, padahal gede loh.

Ah, kamu Ben. Kuping kalau ga nempel juga bisa lupa tiap hari. Ya udah, ikhlasin aja, belom rejeki kita paling.

***

No comments:

Powered by Blogger.